Jakarta (ANTARA) - Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan menyebut impor komoditas tekstil, besi, dan baja masih tetap membutuhkan surat pertimbangan teknis (pertek) yang dikeluarkan kementerian terkait.

"TPT (tekstil dan produk tekstil), besi baja masih ada pertek," ujar Zulkifli dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR di Jakarta, Kamis.

Hal itu disampaikan Zulkifli sebagai respons atas pernyataan Anggota Komisi VI DPR RI yang menyebut bahwa Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 8 Tahun 2024 tidak berpihak kepada industri tekstil dalam negeri, lantaran mencabut pertek dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin), sehingga mematikan produksi dalam negeri.

Pelaku usaha tekstil disebut tidak dapat bersaing dengan barang-barang impor karena sudah tidak ada lagi pertek yang mampu membendung gempuran produk luar.

Lahirnya Permendag 8/2024 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor diproyeksikan akan membuat ratusan pabrik tekstil tutup dan 120 ribu pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Zulkifli menegaskan TPT, besi baja, dan ban masih harus menggunakan pertek untuk melakukan importasi.

Pemerintah berupaya maksimal dalam melindungi industri dalam negeri. Namun menurutnya, Permendag 8/2024 tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas tutupnya industri TPT di Indonesia.

Dalam merumuskan permendag, lanjut Zulkifli, Kemendag selalu melibatkan beberapa kementerian, lembaga, serta asosiasi-asosiasi. Rapat tersebut pun dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto atas kesepakatan bersama.

"Karena begini, kadang-kadang kita semangat untuk melindungi, tetapi teknologi enggak bisa dilawan, contohnya Starlink masuk pasti habis BTS-BTS. Kita mau melarang sampai kapan, itulah tugas kita berlomba-lomba, kita lindungi, tapi mau berapa lama," kata Zulkifli.

Baca juga: Wamendag: Permendag 8 dibuat untuk mempermudah pelaku usaha
Baca juga: Kemenperin: Tak ada permohonan pertek soal impor bahan peledak
Baca juga: Industri elektronik sebut pertek tak hambat produksi dalam negeri

Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2024