Jakarta (ANTARA) - Kepala Fasilitas Inti Biologi Molekuler dan Proteomik (MBPCF) Universitas Indonesia (UI) Septelia Inawati Wanandi mengatakan Indonesia memiliki spesimen yang kaya dan beragam untuk penelitian molekuler, yang mesti dimanfaatkan secara maksimal di dalam negeri dan tidak dijual ke luar negeri.

“Jadi penelitian molekuler bisa dikembangkan di Indonesia dengan menggunakan sampel atau spesimen yang mengangkat sumber daya di Indonesia dan keanekaragamannya. Kita dari barat ke timur sangat kaya, nah itu yang menarik buat periset di luar," kata dosen yang akrab dipanggil Ina ini di Fakultas Kedokteran UI, Jakarta, Jumat.

Oleh karena itu, ia selalu mengingatkan kepada periset Indonesia, terutama periset muda, harus menjaga itu, jangan sampai dijual.

Ia menjelaskan, Indonesia memiliki keragaman morfologi (susunan makhluk hidup) yang sangat variatif, mulai dari manusia, hewan, alam, tumbuhan, hingga mikroorganisme yang secara spesifik hanya hidup di Indonesia.

“Saya selalu ingatkan kepada teman-teman periset Indonesia, terutama periset muda, kita harus jaga itu, karena secara teknologi kita mungkin kalah dengan luar negeri, kita masih merambat ke situ, nah tetapi kita punya kekayaan, jadi itu jangan sampai dijual,” ujar dia.

Ina mengemukakan pentingnya kolaborasi dengan para periset di luar negeri, tetapi tetap menjaga agar spesimen atau bahan mentah, misalnya sampel darah tetap dijaga di dalam negeri, karena dengan spesimen tersebut, bisa muncul begitu banyak penelitian yang dapat dikembangkan.

Baca juga: Akademisi UGM tekankan identifikasi molekuler untuk konservasi satwa
Baca juga: BRIN memfokuskan riset genomik untuk mitigasi pandemi


“Seringkali, dokter itu senang kalau pasiennya dibawa ke luar negeri, pengobatannya di sana, tetapi dari sampel darah atau jaringan yang diambil, bukan hanya terapi pengobatan saja yang bisa dilakukan, tetapi bisa dilakukan 1.001 macam penelitian lain yang nantinya mungkin bagi dokter atau peneliti yang membawanya tidak mendapatkan porsi itu (apabila dijual),” paparnya

Menurutnya, inisiasi yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) lewat Biomedical & Genome Science Initiative (BGSi), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) lewat fasilitas laboratorium yang mumpuni, membuat penelitian molekuler di Indonesia semakin maju, tetapi tetap diperlukan kerja sama yang berkelanjutan untuk hal tersebut.

“Tentu Kemenkes sudah bagus dengan ada BGSi, BRIN dengan fasilitas laboratorium yang mumpuni, tetapi kita harus kerja sama, atmosfer kerja sama itu yang harus dibangun di Indonesia,” tuturnya.

Ina hadir dalam gelar wicara bertajuk “Menggali Potensi Riset Indonesia: Pembelajaran dari Genomics and Science Dojo” yang diselenggarakan oleh Summit Institute for Development (SID), organisasi yang aktif bergerak dalam pengembangan kesehatan, pendidikan, dan sumber daya manusia, bekerja sama dengan Kemenkes, BRIN, Kedutaan Besar Inggris, dan UI.

The Health and Genomics Science Dojo merupakan program peningkatan kapasitas yang bertujuan memperkuat pemikiran kritis, memperdalam kemampuan peneliti dalam melakukan analisis dan interpretasi data genomik, serta mendorong pembelajaran pengalaman melalui kelompok sebaya dalam konteks data klinis dan demografis lainnya.

Program tersebut juga diharapkan dapat menjadi program unggulan untuk membangun kapasitas peneliti genomik dan sains di Indonesia dan untuk mempercepat lebih banyak publikasi penelitian dari Indonesia di jurnal berdampak tinggi.

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2024