Jakarta (ANTARA) - Pakar Biokimia dan Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) Septelia Inawati Wanandi mengakui bahwa penelitian genomik di Indonesia sudah semakin maju apabila dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu.

“Dibandingkan 10 tahun yang lalu, tentu saat ini kita sudah sangat maju. Di tahun 1997-1998, laboratorium masih sangat minim, terus kita mulai membangun di FK UI, dari laboratorium saya sendiri di biokimia kita betulkan ruangan dan alatnya, kemudian PCR (Polymerase Chain Reaction) meminjam, jadi dibandingkan beberapa puluh tahun yang lalu, sekarang sudah cukup maju, tetapi kita tetap mengejar teknologi di luar,” ujarnya di FK UI di Jakarta, Jumat.

Dosen yang juga menjabat sebagai pengajar di Indonesia Medical Education and Research Institute (IMERI) UI ini, menjelaskan penelitian genomik menjadi semakin populer semenjak pandemi COVID-19, utamanya terkait dengan teknologi PCR.

“Sejak pandemi sebenarnya ada blessing in disguise, orang sudah melihat bahwa biomedik ini sesuatu yang bisa menjual juga, berapa banyak laboratorium yang bisa meriset PCR pada saat pandemi, sekarang semua tahu PCR. Artinya, kebutuhan akan lulusan biomedik makin tinggi, dan makin banyak pula program S2 biomedik yang dibuka di Indonesia sekarang,” katanya.

Septelia menyebutkan semakin banyak mahasiswa yang berminat untuk melanjutkan studi di bidang biomolekuler.

Baca juga: Optimalisasi riset genomik untuk mewujudkan data kesehatan berkualitas

Oleh karena itu, ia berharap, semakin banyak kerja sama dilakukan antara pemerintah, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memfasilitasi peneliti muda yang fokus di bidang penelitian genomik.

“Sekarang sudah ada tingkat komponen dalam negeri (TKDN) itu bagus sekali, supaya riset genomik bukan hanya di atas kertas. Kita tahu ada angka dan data-data yang penting, tetapi data-data itu harus dipakai dan dimanfaatkan, kalau itu tidak kita pakai, akan digunakan orang luar untuk bikin obat, nah itu kan yang bikin orang lain, padahal dari data-data kita,” ucapnya.

Ia berharap, pemerintah mendorong penggunaan produk-produk hasil penelitian genomik yang diciptakan para peneliti dalam negeri.

“Kita punya keanekaragaman dan kita mesti bisa memanfaatkan data genomik yang ada untuk mengembangkan produk terapi, pencegahan, regeneratif, mungkin bisa lebih didorong untuk dipercepat dan dikenal produknya, karena kadang-kadang sudah jadi produk, tidak ada yang mau memakai, misalnya waktu lagi COVID-19 kan banyak produk ventilator yang dibuat oleh peneliti Indonesia, vaksin juga, itu harus didukung pemerintah untuk menggunakan itu,” ujarnya.

Seorang perwakilan dari Biomedical and Genome Science Initiative (BGSi) Kementerian Kesehatan Indri Rooslamiati mengatakan pendataan genomik telah dimanfaatkan untuk menanggulangi salah satu penyakit menular yang menjadi fokus perhatian di Indonesia, yakni tuberkulosis (TB).

“Pencegahan dan penanggulangan TB internasional, kita bisa lebih dari 70 persen untuk menemukan kasusnya, dulu untuk menemukan kasusnya saja susah, akhirnya sekarang peningkatannya sudah cukup drastis,” katanya.

Ia mengemukakan penelitian genomik di Indonesia juga bermanfaat untuk kedokteran yang presisi (precision medicine), yakni pengobatan tepat sasaran melalui pendekatan baru yang mempertimbangkan genetik, lingkungan, dan pola hidup pasien.

“Dari sisi genomik nanti akan mengembangkan precision medicine, karena kita butuh data, kita butuh tahu di Indonesia resistennya obat apa, penyakit-penyakit yang perlu dicegah dan diobati juga seperti apa,” ucapnya.

Baca juga: 23 tim ilmuwan beradu ide dan gagasan penelitian genomik
Baca juga: Akademisi UI: Indonesia punya spesimen kaya untuk penelitian molekuler
Baca juga: BRIN memfokuskan riset genomik untuk mitigasi pandemi

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2024