Ambon (ANTARA News) - Stasiun Metereologi Pattimura Ambon memperkirakan gelombang di perairan Maluku dan sekitarnya pada 14 hingga 19 Januari ini sangat membayakan bagi armada-armada pelayaran maupun kapal nelayan.

Menurut prakirawan Stasiun Metereologi Pattimura Ambon, Agie Walandari, Kamis, ketinggian gelombang di perairan Maluku dalam periode itu mencapai 2,5 hingga 6 meter.

"Jadi tenggang waktu tersebut masyarakat dihimbau mewaspadai kemungkinan terjadi hujan deras disertai guntur dan angin kencang serta puting beliung,"tambahnya.

Agie memprakirakan kencangnya angin sekitar 45 KM per jam, sedangkan tingg gelombang berkisar 2,5 - 6 meter dengan alun sedang antara 2 - 4 meter.

"Gelombang tinggi diprakirakan melanda laut Aru dan laut Arafura yakni 7 meter sehingga sangat rawan bagi aktifitas pelayaran,"katanya.

Peringatan juga soal kemungkinan terjadinya bahaya banjir dan tanah longsor di daerah-daerah rawan karena kemungkinan terjadi hujan deras.

Semntara itu, Plt Adpel Ambon, Abraham Lesnussa, secara terpisah, telah menghimbau masyarakat agar memperhatikan kelayakan pelayaran mengingat kondisi laut di perairan setempat kurang bersahabat.

"Kami senantiasa mengingatkan para pemudik agar memperhatikan kelayakan pelayaran sehingga mengantisipasi kemungkinan terjadinya musibah laut yang tidak diinginkan sehubungan kondisi gelombang di perairan Maluk cukup tinggi,"ujarnya.

Apalagi untuk kapal layar berbodi kayu, speedboat dan ketinting(perahu tradisional-red) yang sering mengabaikan kelayakan berlayar. Bahkan, terkadang memaksakan kehendak untuk naik dengan kapasitas angkut tidak mampu menampung.

"Cilakanya apabila terjadi musibah laut barulah petugas Adep, Syahbandar dan polisi di pelabuhan dipersalahkan pihak keluarga korban. Padahal, biasanya sudah diperingatkan, bahkan Surat Ijin Berlayar (SIB) sering tidak diurus dan memutuskan berlayar dengan risiko,"demikian Abraham Lesnussa.
(*)

Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2009