Kopenhagen (ANTARA News) - Presiden KTT ke-15 (COP) Perubahan Iklim UNFCCC, Connie Hedegaard dan Sekjen UNFCCC, Yvo de Boer mengatakan negosiasi yang telah dilakukan makin positif menuju ke arah adanya kesepakatan yang mengikat kuat.

"Perundingan terjadi sangat positif, mesk banyak tantangan dan masalah yang belum dipecahkan. Para menteri dan pimpinan negara datang dengan kemauan politik yang sangat esensial dibutuhkan untuk sebuah solusi yang kuat," kata Connie Hedegaard didampingi Yvo de Boer dalam jumpa pers KTT Perubahan Iklim di Kopenhagen, Sabtu malam.

Connie mengatakan dari pengalaman perundingan selama 24 jam terakhir, perundingan telah berjalan dengan luar biasa dengan konsentrasi perundingan mulai spesifik dan mulai masuk ke tahap lebih dalam.

"Perundingan masih diperlukan untuk membahas masalah pembiayaan, komitmen dan isu-isu lain yang belum terpecahkan. Waktu menjadi tantangan yang paling besar," katanya.

Dia mengatakan mulai saat ini dia akan membuka diri terhadap pembicaraan informal dengan 49 menteri dari berbagai negara yang telah datang untuk berunding sampai di mana dan akan dibawa ke mana perundingan selanjutnya guna mencapai kesepakatan.

Connie yakin para pemimpin dunia akan mempertimbangkan pendapat masyarakatnya masing-masing dan terutama dari para pengunjuk rasa dalam aksi "Global Day of Climate Action" yang dilakukan di seluruh dunia.

"Bila tidak didengar, maka pemimpin negara-negara itu akan membayar akibatnya," katanya.

Oleh karena itu, Connie tidak berharap pada hasil minimal, tetapi hasil yang maksimal yang didapatkan melalui konferensi ke-15 perubahan iklim di Kopenhagen ini.

Sedangkan Sekjen Konvensi Badan Dunia untuk Perubahan Iklim (UNFCCC), Yvo de Boer mengatakan saat ini ada puluhan ribu orang yang beraksi mengekspresikan aspirasinya mengenai perubahan iklim dan itu merefleksikan umat manusia di dunia.

"Aksi itu untuk memanggil kepala negara agar membuat keputusan yang lebih kuat disini," katanya.

Yvo mengatakan dia membutuhkan tidak hanya perhatian tapi yang lebih penting adalah komitmen dari negara-negara peserta untuk menghasilkan suatu keputusan.

"Yang saya inginkan adalah melihat negara-negara maju menaikkan target penurunan emisi yang lebih ambisius," katanya.

Dua draf

Konvensi Badan Dunia untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) sebagai penyelenggara KTT ke-15 Perubahan Iklim secara resmi merilis dua draf keputusan di bawah AWG-LCA dan AWG-KP.

AWG-LCA (Ad Hoc Working Group on Long-term Cooperative Action under the Convention) atau Pokja Ad-hoc untuk Kerja sama Jangka Panjang merupakan perundingan dari negara-negara peserta Konvensi Badan Dunia untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) yang membahas kerja sama jangka panjang untuk menangani perubahan iklim.

Sedangkan AWG-KP (Ad Hoc Working Group on Further Commitments for Annex I Parties under the Kyoto Protocol) merupakan perundingan dari negara-negara UNFCCC yang meratifikasi Protokol Kyoto.

Anggota Delegasi RI Agus Purnomo mengatakan dengan dikeluarkannya tiga draf naskah keputusan persidangan, maka perundingan sudah lebih jauh lebih maju dibandingkan kemarin yang memanas karena perbedaan pendapat dari negara-negara peserta

"Dengan dikeluarkannya draf keputusan artinya perundingan saat ini sudah masuk pada tahap negosiasi," katanya.

Bila perundingan lancar, maka hasil pembahasan akan dibawa ke sidang pleno AWG-LCA dan AWG-KP untuk nantinya bisa disahkan pada pertemuan tingkat menteri mulai Selasa mendatang (15/12). (*)

Pewarta: jafar
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2009