Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjalin jejaring dengan para pengelola di seluruh Indonesia untuk pengembangan kebun raya.

Direktur Kemitraan Riset dan Inovasi BRIN R. Hendrian saat ditemui di Jakarta, Rabu, mengatakan pertemuan dengan para pengelola sudah dilakukan secara virtual sejak Maret 2019.

Akan tetapi situasi COVID-19 dan pembentukan BRIN dilakukan pada September 2021, membuat adanya pertemuan besar menjadi tampak berisiko.

Selanjutnya, BRIN mengadakan pertemuan dengan pengelola 42 kebun raya secara virtual hingga akhirnya dilakukan pertemuan tatap muka.

Hendrian mengatakan jejaring kebun raya dapat menjadi modal nasional. "Oleh sebab itu menjadi kewajiban BRIN untuk memberikan encouraging (dorongan) kepada para pengelola, juga untuk menegaskan bahwa jejaring ini tetap ada dan tetap akan kita bina," kata dia.

Baca juga: BRIN menawarkan konsep kebun raya jadi pusat pertumbuhan ekonomi baru

Dalam pertemuan tersebut dibahas beberapa hal baru mengenai Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) dalam kaitannya dengan pengembangan kebun raya.

"Kita tidak hanya berbicara tentang manajemen kebun raya tapi juga ada riset inovasi daerah," kata Hendrian.

Selain itu pertemuan tersebut membahas sentuhan riset konservasi ex-situ oleh Kepala Pusat Riset Konservasi Tumbuhan Kebun Raya dan Kehutanan, serta ada manajemen koleksi dari Deputi Infrastruktur Riset dan Inovasi.

"Jadi memang ini menjadi satu tantangan tersendiri tentang bagaimana caranya spirit di antara pengelola kebun raya daerah itu jangan sampai mati apapun yang terjadi, mau ada pandemi, ada transisi, ada perubahan di sana sini," kata dia.

Hendrian mengatakan semangat para pengelola kebun raya tidak boleh mati, karena menyangkut kekayaan nasional dan keanekaragaman tumbuhan Indonesia.

Baca juga: BRIN: Pembangunan desa berbasis digital dorong kemandirian desa
Baca juga: BRIN dukung rehabilitasi mangrove melalui pengembangan teknologi

Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2022