Kudus  (ANTARA News) - Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Raden Umar Said di Kudus, Jawa Tengah, kini fokus mengembangkan animasi dan telah mempunyai studio animasi yang canggih sekelas Pixar, hingga berhasil menyelesaikan sejumlah karya.

SMK yang semula merupakan sekolah percetakan itu sekarang mempunyai studio animasi yang canggih, yang tidak kalah dengan studio animasi dunia sekelas Pixar, ujar Direktur Seni sekaligus pengajar di SMK Raden Umar Said Kudus, Elmira D. Khanna di Semarang, Jawa Tengah, Rabu.

"Proyek terbesar para siswa yakni film pendek Marrionate, lalu ada game virtual reality, dan proyek komersial dari Toyota," katanya.

Elmira mengatakan fasilitas untuk menunjang pendidikan animasi di sekolah itu sudah cukup bagus, namun masih butuh fasilitas untuk berkreasi membuat game.

"Sekolah animasi ini didirikan pada Juli 2015. Siswa yang diterima 26 orang dari 26 yang mendaftar," ujar Direktur Program Djarum Foundation Primadi Serad di Kudus.

Primadi mengatakan sekolah tersebut adalah salah satu dari SMK binaan program Djarum Bakti Pendidikan yang sejak 2012 membuat program pengembangan sekolah vokasi (kejuruan).

SMK Raden Umar Said Kudus memiliki tiga tingkatan kelas dengan fokus belajar berbeda, yakni kelas 10 belajar dasar animasi dan perkenalan perangkat lunak modeling animasi, kelas 11 magang di spesialisasi sesuai ketertarikan siswa, dan kelas 12 proyek kelompok.

Elmira mengatakan, penyelesaian proyek animasi bisa memakan waktu 3-6 bulan.

Pengajar animasi untuk saat ini didatangkan dari pengajar Indonesia yang menempuh studi di Singapura dan Inggris ditambah guru tamu, misalnya yang didatangkan dari Jepang.

SMK yang dipenuhi fasilitas animasi itu membuat para siswa  lebih betah. Selain komputer yang memadai, suasana dan desain ruangan menjadi hal yang membuat para murid tertarik menghabiskan waktu di sekolah.

Bahkan, di sejumlah ruangan terdapat  perabotan permainan seperti perosotan dan kursi menyerupai ayunan untuk belajar maupun ujian.

Elmira mengaku dengan fasilitas memadai kinerja dan produktivitas anak bertambah.

"Ada beberapa anak yang merasa tidak cocok dengan bidang animasi. Namun ketika mulai mempelajarinya, mereka bisa menikmatinya karena suasana dibuat menyenangkan sehingga mendukung kinerja mereka," ujar Elmira.

 Baca juga: SMK tulang punggung industri animasi Indonesia
Baca juga: Animasi karya SMK diminati sejumlah rumah produksi

 

Pewarta: Tessa Qurrata Aini
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018